Tuesday, 12 January 2016

Handphone Gusdur Juga Pernah Dicuri Porter

PARA pengguna pesawat saat ini sedang tersita perhatiannya dengan kasus temuan CCTV yang merekam kejadian seorang porter maskapai murah meriah yang paling laris saat ini, sedang membedah isi tas penumpang yang ketahuan membawa barang berharga. Bermodal sebatang pulpen, dengan mudah sang porter merobek badan tas penumpang dan mengeluarkan isi di dalamnya. Mengamankan dengan cekatan sebuah benda kecil, mungkin cincin, mungkin kalung, atau sejenis barang mahal lainnya ke dalam mulut. Untuk barang yang lebih besar dan tidak mungkin cukup ditaruh dalam mulut, disimpannya dengan sangat rapi dan tersembunyi dibalik pakaian.

Semua mata tertuju pada layar televisi yang menayangkan rekaman tersebut. Pada rekaman berikutnya, sekelompok polisi beraksi melakukan penangkapan beberapa porter. Rupanya ada beberapa porter yang juga melakukan aksi serupa namun tidak tertangkap oleh peralatan mata-mata yang diciptakan Walter Bruch asal Jerman tahun 1945 untuk mengamati peluncuran roket V-II.

Akan halnya warga Jerman yang begitu antusias menyaksikan kemajuan teknologi mereka, rakyat Indonesia pun demikian pula. Menyaksikan betapa durjananya kelakuan para porter yang seharusnya menjaga barang yang dititipkan pada mereka untuk diurus dengan penuh tanggungjawab. Jangankan mereka yang bolak-balik bepergian dengan pesawat. Mereka yang jarang, atau sama sekali belum pernah bepergian dengan pesawat kecuali hanya sesekali menyempatkan berhenti sejenak di dekat bandara dan mendongak ke atas ketika kebetulan sebuah pesawat melintas di atas kepalanya, turut pula menyimak dengan serius berita heboh tersebut.

Entah apa yang ada dibenaknya. Jika suatu hari kelak mendapat kesempatan naik pesawat itu. Mungkin tak satu barangpun bakal dititipkan di bagasi. Walau hanya selembar pakaian dalam. Atau jangan-jangan dia langsung bersumpah dalam hati, tak akan sekalipun mau naik pesawat dari maskapai itu seumur hidupnya, kecuali digratiskan.

Banyak pula yang berkomentar dan memaklumi dengan menghubungkan kepantasan sebagai maskapai bertarif murah. Sehingga pelayanannya jelek. Petugas-petugasnya bergaji rendah dan terpaksa mencari penghasilan tambahan dari jalur yang tidak wajar. Coba mereka dikasih gaji tinggi dan memperketat seleksi penerimaan, sehingga yang diterima di maskapai itu hanyalah mereka yang memang benar-benar berakhlakul karimah.

Lihat saja akhlak mereka yang diterima di maskapai itu, rata-rata di bawah rata-rata. Bukan cuma pegawai rendahan yang jadi porter. Mereka yang berada di level tinggi dan biasa berada di ketinggian atmosfir pun, pernah diterpa berita yang macam-macam. Dan apakah ini memang sebuah kebetulan, kejadian memalukan ini juga terjadi di maskapai yang, diakui ataupun tidak, banyak berjasa dengan masyarakat Indonesia dengan tiketnya yang super terjangkau itu.

Cerita tentang seorang kapten pilot yang mengumumkan sesuatu lewat pengeras suara di kabin pesawat kepada penumpang dengan suara yang diselipi desahan-desahan, laiknya seorang suami yang sedang keenakan dimanja istrinya di malam pengantin, memperpanjang daftar hitam maskapai ini. Kejadian ini kemudian dilaporkan oleh seorang penumpang dan sempat menjadi pemberitaan yang menghebohkan. Menurut dugaan, sang pilot dan pramugarinya ini memang lagi asyik masyuk. Indehoi dalam kondisi pesawat dalam keadaan stabil di cuaca yang sedang sangat bersahabat dalam penerbangan, memang jadi sesuatu yang menantang adrenalin.

Pikir sang pilot, dari pada nggak ada kerjaan, mending ngerjain sesuatu bersama pramugari. Walhasil, konsentrasi yang harusnya tetap tertambat pada tuas-tuas pengendali pesawat yang jumlahnya tidak sedikit itu teralihkan ke “tuas” lain yang justru kini dikontrol sepenuhnya oleh tangan lembut sang pramugari, dengan penuh seksama, dan dalam tempo yang senikmat-nikmatnya. Dan di luar kesadaran, ketika pada saat yang bersamaan dia tiba-tiba teringat pula akan kewajibannya mengumumkan sesuatu yang maha penting. Celakanya, sang pilot sudah tak sanggup lagi mengontrol pitch suaranya dengan sempurna. Maka yang terucap kemudian justru desahan-desahan yang membawanya pada ujung kesialan. Dipecat dari pekerjaan karena dilaporkan salah seorang penumpang.

Belum lagi sederet aib yang dibukukan maskapai ini oleh polah para pilot dan pramugarinya yang kedapatan berpesta sabu, di hotel dan di dalam kokpit pesawat. Pada saat pesawat sedang berada di sela awan. Sungguh menggemaskan kelakuan mereka.

Sebelum prilaku layak sensor ini sempat menghebohkan jagat pemberitaan di alam nyata maupun di dunia maya, kejadian serupa juga pernah terjadi. Hampir tidak berjarak jauh dari heboh desahan sang pilot ini. Sebuah maskapai penerbangan di luar negeri juga dilaporkan penumpangnya karena pilotnya malah berbuat lebih parah. Mengumumkan iklan berlabel XXX. Kalau di penerbangan tanah air terbiasa dengan iklan jualan produk seperti jam tangan, baju, parfum, miniature pesawat maupun aksesoris lainnya yang dijual dan diumumkan oleh pramugari di tengah penerbangan. Kalau ini, di maskapai penerbangan luar negeri ini, si pilot malah menawarkan pramugarinya untuk dinikmati oleh penumpang yang ingin merasakan kehangatan seksual dari sang pelayan penerbangan. Tempat eksekusinya dimana lagi kalau bukan di pantri belakangan, kokpit pilot, dan WC pesawat.

Pantas saja, kata seorang yang pernah ikut menumpang di pesawat ini, ketika dia ingin buang hajat, pintu WC pesawat mendadak sulit dibuka dan dia pernah mendengar suara-suara aneh dari dalam ruangan kecil berpenutup bahan dari alumunium tersebut.

Kembali ke cerita pencurian barang berharga yang dititip di bagasi pesawat. Sesungguhnya ini bukanlah kejadian baru dan di pesawat yang katanya bertarif murah, dan dipantas-pantaskan dengan memberikan pelayanan seadanya. Saya pernah mengalaminya justru di pesawat plat merah. Tarifnya pun tidak biasa. Lumayan menguras isi kantong. Waktu itu sekitar tahun 2003. Saya pernah melakukan perjalanan cukup jauh dari kampung saya di Kalimantan menuju ke daerah terujung negeri ini, Jayapura. Maskapai yang ada saat itu cuma dua yang melayani penerbangan kesana. Kedua-duanya berplat merah. Dan saya tentu saja memilih yang termurah diantara keduanya.

Mungkin karena selalu lebih murah dibandingkan maskapai milik BUMN yang satunya, maskapai yang saya tumpangi itu, sekarang sudah tidak bisa terbang lagi. Sudah bangkrut, tutup dan tidak lagi melayani penerbangan untuk rute manapun di dunia ini. Anda pasti sudah bisa menebaknya. Maskapai apakah gerangan yang saya maksud.

Sesuai rutenya, saya terbang di sore hari dan baru tiba di Sentani Jayapura pagi harinya. Melalui rute-rute transit dari Banjarmasin menuju ke Surabaya dulu, kemudian melanjutkan ke Ujung Pandang, Ujung Pandang ke Biak, dari Biak barulah tiba di Bandara Sentani Jayapura pada pukul 8 pagi. Karena kelelehan, ketika mengambil bagasi saya sama sekali tidak menyadari tas yang saya titip di bagasi sudah tidak sempurna. Barulah sampai di rumah kerabat di Jayapura Utara, ketahuan ada salah satu tas yang robek di bagian dekat resleting. Robeknya tidak terlalu lebar, sehingga tidak ada barang atau pakaian yang muntah dari dalamnya, kecuali sebuah handphone nokia 3310 yang sebenarnya sudah saya balut sedemikian rupa dan seharusnya aman diantara susunan pakaian.

Kotaknya masih dalam kondisi terbungkus rapi. Maklum, itu adalah barang pesanan kerabat yang minta dibelikan di Banjarmasin yang harganya tentu jauh lebih murah ketimbang di Jayapura. Tapi ketika saya buka, isi dalamnya telah lenyap. Handphone raib. Saya tidak tahu apa maksud si tikus bandara itu sampai harus berbaik hati menyisakan hanya kotaknya. Mestinya, dia mengambil saja seluruhnya agar bisa dijual dengan harga yang lebih mahal. Atau mungkin dia kelupaan bawa tas kresek saat mencuri, sehingga agak kerepotan jika harus menyembunyikan handphone beserta dus-nya di balik baju.

Ketika itu Nokia 3310 bukanlah barang murah. Karenanya saya bertekad mendapatkan kembali barang saya yang hilang. Yang jelas bukan dengan jalan membelinya lagi. Satu-satunya upaya, ya saya harus komplain. Sanak kerabat sempat menyarankan untuk tidak usah complain apalagi lapor polisi, sia-sia kata mereka. Tapi saya tetap berusaha.

Hal pertama yang saya lakukan adalah, mencari tahu, dimana kantor maskapai terdekat. Setelah tanya kesana kemarin, akhirnya ketemu di Jl A Yani 15 Gurabesi Jayapura Utara kalau tak salah. Karena tidak terlalu jauh, saya datangi siang itu juga. Saya minta bertemu dengan pimpinannya. Dipertemukanlah oleh staf di sana dengan pimpinan mereka yang sungguh baik hati setelah tahu kalau saya seorang wartawan.

Saya lupa nama beliau. Kalau tak salah Nasruddin. Orang Ujung Pandang. Saya keluhkan kepadanya, bahwa saya baru saja kehilangan handphone yang saya letakkan di dalam tas. Bukti tas yang robek dan kotak Nokia yang disisakan maling ternyata berguna, sebagai barang bukti. Dengan tidak banyak berkilah, dia berjanji akan mengganti kehilangan barang saya.

Sambil berbincang-bincang, dia cerita, kalau kejadian ini bukanlah kejadian yang pertama dialaminya selama bertugas. Dia mengakui memang banyak porter yang nakal terutama yang bertugas di salah satu bandara di jalur rute penerbangan dari Surabaya ke Biak. Bukan hanya orang kecil seperti saya yang pernah mengalaminya. Orang yang menempati jabatan tertinggi di negeri ini pun pernah juga bernasib serupa. “Dulu, Gusdur (saat masih menjabat sebagai Presiden RI) pernah kehilangan hanphonenya saat berkunjung ke Jayapura,” katanya.

Tahun dan tanggal pasti kapan peristiwa itu terjadi, Nasrudin memang tidak menyampaikannya secara detil. Dan saya pun ketika itu tidak berusaha mengejarnya dengan pertanyaan-pertanyaan standar seorang jurnalis. Namun yang pasti seingat saya, peristiwa itu menurut cerita Nasrudin, terjadi ketika Gusdur masih menjabat sebagai Presiden ke 4 RI, saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Jayapura. Selama menjabat sebagai presiden, Gusdur memang sempat beberapa kali melakukan kunjungan ke bumi Cenderawasih.

“Anda bayangkan sendiri, bagaimana sulitnya mengganti handphone beliau. Kami sampai harus memesan langsung ke pabrik pembuatnya, sebab barangnya limited edition dan hanya dibuatkan khusus untuk beliau dari pabrikannya,” ujarnya lagi.

Diterangkannya, handphone itu tidak seperti nokia kebanyakan, karena dibuat khusus untuk membantu memudah Gusdur berkomunikasi. Dengan rancangan khusus tadi, saya yakin, si pencuri akan kesulitan menjualnya. Pertama, pengoperasiannya tentu beda, sebab handphone tersebut sengaja dibuat untuk Gusdur. Kode-kode, tombol, dan segala macamya pastilah hanya si penggunanya yang tahu. Selain itu, kalau dia menjual, akan segera terlacak, dan hukumannya pastilah sangat berat.

Saya jadi membayangkan, si pencuri hanya akan menyimpan saja barang tersebut sampai sekarang, sebagai kenang-kenangan. Tanpa pernah tahu siapa pemilik handphone unik tersebut. Atau boleh jadi, setelah si maling, atau si pemegang terakhir handphone misterius itu membaca tulisan saya ini, baru sadar, kalau handphone yang mungkin saja sudah diberikan dan hanya dijadikan mainan oleh anaknya ini sangat bernilai, karena pernah dimiliki seorang presiden. Sampai akhirnya muncul ide brilian, karena biasa begitu, maling sering dianugerahi otak yang encer. Menjual barang rongsokan yang ternyata “berlian” itu secara rahasia kepada kolektor dengan harganya yang tentu saja tidak murah. Dan seratus atau dua ratus tahun yang akan datang, barang ini di pasar lelang akan di lepas dengan harga yang fantastis dan diberitakan oleh seluruh media massa di dunia. Bahwa telah terjual sebuah barang yang sangat antik, langka, tidak pernah dimiliki duanya oleh orang lain dengan harga yang sangat-sangat fantastis.

Sepanjang yang saya ketahui, dan saya searching di dunia maya, memang belum pernah ada satupun berita yang menuliskan tentang kehilangan handphone milik mantan presiden ini. Harusnya saya menuliskannya saat itu, sebab info ini sangat menarik dan memiliki news value istimewa. Tapi karena waktu itu saya dibelit urusan yang sangat menyita perhatian, dan di sisi yang lain, waktu itu saya hanyalah seorang wartawan muda yang belum memiliki insting kuat sebagai seorang jurnalis, saya akhirnya lalai menuliskannya. Baru setelah 14 tahun, peristiwa itu teringat sekarang setelah terpicu tayangan CCTV tentang pencurian barang bagasi oleh sekomplot porter nakal.

Seandainya waktu itu, saat Gusdur masih menjadi orang nomor satu di negeri ini, informasi itu sempat bocor, saya rasa akan banyak pihak yang merasa malu. Pertama maskapai yang bersangkutan, kedua Paspampres, mengapa hanya untuk mengamankan tas dan barang berharga milik presiden kok bisa kecolongan. Ketiga, mungkin juga, Gusdur telah merelakan barang tersebut hilang dan tidak memerintahkan untuk mencarinya lagi. Tapi yang jelas, Nasrudin mengaku telah memesannya dan menggantikannya sesuai dengan spek langsung ke pabrik asalnya di luar negeri. Dan itu cukup membuat dia mempertaruhkan segalanya; uang, jabatan dan nama baik. (m ramli arisno)

Artikel yang sama juga bisa dibaca pada: ramliarisno.blogspot.co.id
























Tuesday, 22 December 2015

Antara Miss Colombia, Miss Kaltim 2014, dan Sensasi Sebuah Miss V

SIAPA yang paling merasa malu diantara mereka berdua ini, Miss Colombia Ariadna Gutierrez, atau MC yang memadu Miss World 2015, Steve Harvey? Akibat kesalahannya mengumumkan pemenang ratu sejagat itu, Ariadna yang selama sekitar dua menit berada di atmosfir terluar bumi, tiba-tiba jatuh dengan berderai air mata.

Menanggung jutaan ton rasa malu karena terlanjur menghamburkan ciuman jauhnya kepada jutaan pasang mata penonton dan pendukungnya yang menyaksikan event tahunan yang lisensi penyelenggaraannya pernah dimiliki Donald Trump itu. Mahkota dan selempang bertuliskan miss world yang amat membanggakan para kaum hawa itu terpaksa dilepaskan lagi dengan sangat dramatis.

Kepada siapakah hujatan ini layak dihujamkan. Kepada MC yang karena keterbatasannya sebagai manusia, keliru mengumumkan pemenang sebenarnya, yang harusnya mendapatkan mahkota, selendang, tepuk tangan, sorot kamera yang terkabarkan ke seluruh dunia, dengan kebanggaan sebagai wanita tercantik sejagat. Sekaligus merenggut paksa harga diri seorang perempuan yang terlanjur bahagia.

Bersama beberapa kawan saya terlibat perdebatan kecil. Masing-masing dengan argumentasinya. Seorang kawan bak hakim Bao berpendapat, sang MC harus dihukum berat, kalau perlu tak usah dibayar. Walau sebenarnya, menurut saya, hukuman seperti yang dipikirkannya itu bukanlah yang terberat. Sanksi sosial yang bakal diterima sang MC pastilah jauh lebih berat.

Coba bayangkan, selepas ini, walaupun dia telah meminta maaf secara terbuka di banyak media, apakah masih ada event-event organiser besar yang mau lagi ngontrak dia untuk ngemsi. Selepas panggung digulung, salaman basa-basi dengan ketua panitia, mungkin dia masih menerima bayaran atas jerih payah terakhirnya di dunia master ceremony. Tapi dia benar-benar bakal angkat koper mencari profesi lain. Karena saya haqqul yaqin, tak ada satupun pengelola event yang mau mengontaknya lagi. Kecuali, yeah, event-event kecil seperti hajatan ulang tahun balita yang baru bisa jalan, hajatan kecil tingkat RT, atau mantenan. Itupun pastilah dengan perasaan was-was, jangan-jangan dia salah sebut lagi, misalnya, nama mempelai yang ketukar dengan nama orang tua yang bikin hajatan.

Di acara amal yang digelar level kampungpun, mungkin panitia masih ragu, jangan-jangan dia salah sebut lagi jumlah sumbangan yang diberikan para dermawan. Ini bisa gawat, bisa-bisa panitia malah dilaporkan polisi dan langsung kena audit karena, antara yang disumbang dengan yang diumumkan MC tidak singkron.

Mau tidak mau, ikhlas tidak ikhlas, Sang MC harus mulai dari nol lagi. Mencari profesi lain untuk menyambung hidup. Tapi kalau dia bersikeras dengan profesi lamanya, ya seperti itulah jadinya. Tak ada lagi yang bakal percaya. Bukan lagi masalah dia dibayar mahal atau tidak, atau gratis sekalipun, tapi masalah efek yang terjadi setelah kesalahan itu. Kalau dia ngeyel, tetap ingin jalan di profesi lamanya, pastilah dia berada dalam kesulitan yang lebih besar lagi. Saya sih menyarankan, dia lebih baik tidak memilih pilihan itu. Taruhlah dia coba menyamar dan berhasil mengganti identitasnya yang terlanjur tenar mendunia sejak kecelakaan itu. Itupun saya rasa tidak mudah sebab pasti banyak warga dunia yang masih hapal gerak-geriknya, irama langkahnya, gaya dia megang mik, humor-humor yang diloncatkannya disela-sela bicara, susunan geliginya, bentuk posturnya, yang tentu sulit disembunyikan walau dengan operasi plastik sekalipun. Satu-satunya hal yang menurut saya bisa menghindarkannya dari frustasi bukanlah puluhan butir obat tidur yang ditenggaknya bersamaan, tapi gantung mik dan nyari profesi lain. Itupun harus 180 derajat berbeda dari yang ada.

Lantas bagaimana dengan Miss Colombia? Jika dia tabah, sabar, ikhlas, tawaddu menerima kenyataan, saya rasa dia malah akan lebih terkenal dan diterima warga dunia, bahkan mungkin lebih dikenang ketimbang menjadi miss world. Sesegukannya di belakang panggung, rasa malu, kehilangan harga diri, atau mungkin sampai ingin operasi ganti wajah dan kelamin, adalah hal biasa terjadi sesaat setelah peristiwa malu itu dialami. Selanjutnya setelah itu, saya rasa tak ada yang berubah dari hidupnya. Bahkan mungkin akan banyak rekan, handai taulan yang berkunjung dan ingin menguatkan.

Di beda belahan dunia, di beda peristiwa memalukan yang melatarinya, jauh dari panggung dunia yang banyak menyita perhatian masyarakat dunia, di Indonesia, tepatnya di Kota Surabaya, seorang yang juga menyandang gelar Miss untuk daerah pemilihannya; Miss Kaltim 2014 juga mengguncang perhatian publik.

Si Cantik yang satu ini tertangkap basah menjual kehormatannya sebagai seorang wanita berprestasi kepada seorang polisi yang menyamar sebagai lelaki hidung belang yang membokingnya. Bersamanya, terciduk pula seorang artis lain yang juga tertangkap di hotel yang sama. Akibat peristiwa ini, dia sukses menghias layar kaca di Indonesia, bahkan mungkin juga beberapa televisi negara tetangga dengan berita penangkapannya. 

Selama berhari-hari dan berjam-jam dalam seharinya, berita dan wajahnya muncul. Bukan hanya layar kaca, layar LCD smartphone, komputer, laptop yang kebetulan sedang mengintip kehebohan kabar ini di portal-portal berita di dunia maya pun pasti akan dipenuhi foto-foto Miss yang satu ini. Foto yang mengabadikan detik-detik membanggakan saat dia disampirkan selendang dan mahkota kehormatan yang mirip dengan yang diterima Miss Colombia.

Celakanya, karena wartawan belum memiliki banyak koleksi foto Sang Miss, dan lagi pula, dia memang belumlah lama menjadi artis yang betul-betul terkenal dan memiliki banyak foto yang dipublish di internet, mau tak mau, hanya foto saat dia bermahkota dan berselempang Miss Kaltim itu saya yang selalu dimuncul-munculkan. Atau mungkin, memang hanya foto inilah yang paling menjual. Dengan wajah yang awalnya sedikit diblur, tapi belakangan blurnya hilang dan muncul wajah tanpa penghalang. Dan memang cantik untuk ukuran wanita-wanita kebanyakan di kampung saya.

Saya membayangkan, Miss yang satu ini setelah peristiwa memalukan itu menjerit, berteriak, memaki nasib buruk yang dialaminya, menangis dan mengurung diri di kamar selama berhari-hari. Sama seperti Miss Colombia yang kehilangan kehormatan yang baru diraihnya, rasa bangga yang dipeluknya tidak lebih dari dua menit itu, mahkota yang baru dipakainya yang harus diserahkan kembali ke pemilik lainnya tidak dalam hitungan tahun. Melepas kancing perekat selempang bertulis Miss World yang baru tersampir bersama rasa bangga, hancur tiba-tiba.


Kalau dipikir-pikir, nasib Miss Kaltim 2014 ini masih jauh lebih beruntung dibanding Miss Colombia. Meski saat ini juga didera malu dan memalukan. Tapi setidaknya dia memiliki mahkota dan selempang ke-miss-annya sepanjang masa edar waktu yang wajar. Sampai terpilihnya Miss Kaltim berikutnya, barulah mahkota itu diserahkannya. Namun, hanya gara-gara dia rela menyerahkan mahkota lainnya yang jauh lebih berharga dari mahkota apapun di dunia ini, masih layakkah dia disebut Miss dan mengenang semua sebagai sesuatu yang membanggakan. Jawabannya bisa iya, bisa juga tidak. Karena boleh jadi, gelar Miss-Miss-an itu justru untuk menambah nilai jual Miss V yang menjadi aset bernilai miliknya. Walaupun, kalau saja pria-pria itu sedikit menghargai kewarasan otaknya, siapapun perempuan pemiliknya, rasa dan fungsi Miss V itu tetaplah sama. Hal yang mungkin beda, paling-paling hanya sedikit sensasi. Ya, sensasi! ()

Saturday, 19 December 2015

GOsex, Bukan Gojek Biasa

BERSANTAI sembari menikmati teh di sore hari memang bisa memancing keluar ide-ide yang tersembunyi di alam khayal. Walau kadang yang muncul malah bukanlah ide yang membangun, bernilai positif, apalagi berakhlakul-karimah, yang dapat mengubah sesuatu dari keterbelakangan menjadi kemajuan. Bahasa gaulnya, dari zero menjadi hero.

Bersama beberapa teman yang gokil-gokil, dimulailah perbincangan tentang fenomena Gojek. Dengan bantuan aplikasi layanan berbasis sosial media, moda transportasi yang cukup banyak diminati di ibukota karena kepraktisan dan kecepatannya karena kemampuannya menembus jalur-jalur macet yang tidak bisa ditembus taksi dan mobil angkutan umum lainnya, Gojek menjelma menjadi sebuah kekuatan yang menimbulkan kecemburuan banyak pihak. Terutama dari mereka yang berusaha di bidang bisnis yang sama. Sama-sama di bidang jasa angkutan, baik sesama tukang ojek, maupun moda angkutan lainnya.

Belakangan, “kecemburuan” serupa bahkan juga diperlihatkan kementerian yang mengurusi, salah satunya masalah angkutan. Apalagi kalau bukan kementerian perhubungan. Menteri Ignasius Jonan sampai sempat melarang beroperasinya Gojek ini, walau kemudian mencabut kembali keputusannya karena mulai gaduh di media massa. Tapi, sore itu, kami tidak sedang ingin memperbincangkan tentang aksi Jonan yang ingin memadamkan kepulan asap dapur rakyat kecil yang berusaha mencari hidup dari bisnis angkutan roda dua tersebut.

Seorang kawan yang memiliki kegilaan di bidang IT mengatakan, bahwa itu semua karena ada seseorang yang melihat internet sebagai sebuah peluang. Ketika digandengkan dengan kebutuhan masyarakat yang selalu ingin dimudahkan dalam bertransaksi, maka Gojek muncul sebagai sebuah solusi yang aplikatif.

Betapa mudahnya dengan aplikasi Gojek, seseorang yang ingin bepergian ke suatu tempat, dengan ongkos terjangkau, aman, dan cepat karena hampir selalu mampu menghindari kemacetan, dapat memesannya dari tempat tidur di kamarnya. Mengapa bisa memesannya dari tempat yang paling pribadi tadi, karena cukup membuka smartphone yang sebelumnya telah mengunduh aplikasi tersebut, ojek dengan siap sedia datang ke tempat pemesannya dan mengantarkan ke lokasi yang dituju.

Mengapa aman, karena anggota Gojek sudah terdata, mengenakan seragam dan mengikuti aturan-aturan tertentu. Dan yang jelas, kata teman yang pernah mencicipi pelayanan Gojek ini, tukang ojeknya tidak bau. Tidak seperti, maaf, tukang-tukang ojek kebanyakan. Memang tidak semua tukang ojek di luar Gojek bermasalah dengan bau badan, bau keringat, bau apek rambut yang nempel di helmnya, tapi mungkin karena komunitas Gojek saja yang ingin lebih mempertahankan imej mereka sebagai profesi yang lebih profesional dan bertanggungjawab, karena mereka menggenggam merek dagang atau brand tertentu.

Ongkosnya terjangkau karena ter-list dengan baik. Jarak sekian, ongkosnya sekian. Tidak ada anggota Gojek yang mengakali konsumennya dengan menaikkan tarif lebih di luar kesepakatan awal. Kalau ojek lain, kadang dengan alasan tidak memiliki uang kembalian, atau dengan alasan telah melewati rute dan medan yang sulit, tiba-tiba menaikkan ongkos dengan semena-mena.

Pada perkembangannya, Gojek malah sekarang tidak hanya mengantarkan orang. Tapi juga dapat digunakan sebagai jasa antar barang. Misalnya, kalau kita ingin mengirimkan sebuah barang ke suatu tempat, kita cukup memanggil Gojek dan meminta yang bersangkutan mengantarkannya ke tempat yang dituju. Maka barang akan terkirim dengan tepat dan cepat.

Kalau alamat yang dituju hanya di satu kota atau di satu daerah, waktu yang dibutuhkan tidak sampai melewati satu jam. Jauh lebih efektif ketimbang menggunakan jasa ekspedisi yang ada sekarang. Untuk tujuan yang berada di satu kota atau satu provinsi, paling cepat satu hari. Artinya, barang diposkan pagi, maka paling cepat sore hari baru sampai. Itu paling cepat. Terkadang, ada yang sampai besok baru sampai. Tergantung ongkos kirim.

Nah, soal ongkos kirim juga. Mengirim barang melalui jasa Gojek, tarifnya lebih terjangkau. Ongkosnya, katanya jauh lebih murah dari mengantarkan orang. Karena mengantarkan barang pesanan orang, kadang juga bisa disambi dengan sambil mencari atau menjemput tumpangan di daerah yang mungkin berdekatan dengan daerah tujuan pengiriman barang tadi.

Dari perbincangan yang sedikit agak serius tadi, bergeserlah menjadi perbincangan ke arah yang agak nyerempet-nyerempet ke arah perbincangan yang hanya disukai oleh kaum pria. Apalagi kalau bukan soal seks. Dengan tema yang tidak terlalu jauh dari aplikasi, seorang teman berandai-andai membuat aplikasi serupa. Melayani jasa tertentu yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Kalau membuka jasa angkutan lagi seperti ojek, rasanya kurang seru. Susul menyusul usulan disampaikan, dari aplikasi untuk jasa mengantar anak sekolah, pengantar manula ke Puskesmas, hingga jasa antar jemput objek-objek pemuas sex, mengantar alat bantu sex, obat kuat, sampai jasa pelayanan sex.

Diberilah nama aplikasi tersebut GoSex. Memang frasenya tidak jauh-jauh amat Gojek yang kita bahas sebelumnya. Jasa yang dilayani pun serupa, jasa mengantarkan alat pemuas sex, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Baik benda mati yang seolah-olah dapat hidup dan bernyawa seperti aslinya, maupun alat pemuas sex yang hidup, bernafas, mendesah, berinteraksi, berkemampuan negosiasi, tawar menawar tarif, lihai menagih uang tips sambil merengek-rengek dan lain-lain.

Masih sama-sama saling mengkhayal, ada juga seorang kawan yang mengusulkan untuk membuat website khusus selain membuat aplikasi. Menu-menu di dalamnya dibuat beragam, agar para pengguna dapat memilih sesuai kebutuhan dan ketersediaan sarananya. Bagi pengguna yang bisa atau suka berkomunikasi lewat layanan BBM, mereka bisa memilih menu BBM. Begitu seterusnya bagi yang hanya atau suka dengan jenis aplikasi sosial media lain, seperti Whatsapp (WA), Facebook, Twitter, Miaw, dan lain-lain, bisa menggunakan sarana itu. Dengan masing-masing ditambah akhiran sex di belakangnya, menjadi BBMSex, WASex, FacebookSex, TwiterSex, dan lain-lain. Untuk melengkapi aplikasi GOSex yang telah dibuat.

Mereka yang sudah mengunduh aplikasi GOSex ini dapat dengan mudah memesan layanan yang mereka butuhkan. Untuk menjaga agar aplikasi ini tidak digunakan oleh mereka yang masih belum cukup umur, usia pun dibatasi. Faktor usia ini akan disertakan saat registrasi dan menjadi persyaratan tambahan bagi yang ingin menggunakan aplikasi dari kami.

Soal stok “barang”, jangan khawatir, karena markas besar GOSex ini rencananya bertempat di Kota B*n*a*b*ru, yang memiliki Lokalisasi yang cukup legend di provinsi ini, soal stok tidak masalah. Belum lagi stok dari daerah lain yang juga memiliki basis-basis “daerah merah” sendiri yang tidak kalah dari segi jumlah maupun kualitas pelayanannya. Apalagi, GOSex ini aplikasi yang terbuka, mereka yang mendaftar menjadi anggotanya tidak melulu hanya menjadi user atau pengguna. Bagi perempuan-perempuan yang ingin membuka lapaknya di aplikasi GOSex pun diberikan ruang yang sama.

Karena layanan jasanya GOSex yang lebih bersifat membantu, memfasilitasi, dan jasa pengiriman khusus, maka kami (dalam khayalan), membuka juga lapangan pekerjaan bagi para tukang ojek maupun pengangguran yang memiliki motor dan SIM C untuk berpartisipasi. Mereka juga diharuskan mengenakan seragam dan tanda pengenal, untuk mencegah terjadinya aksi kejahatan yang bisa terjadi dengan mengatasnamakan GOSex.

Kalau di Jakarta Gojek mengenakan seragam hijau-hijau, maka GOSex akan menggunakan seragam putih-putih biar sedikit elegan. Dan tinggal dimodif sedikit saja bisa menjadi seragam perawat jika sewaktu-waktu diperlukan untuk penyamaran. Misalnya, ketika tiba-tiba ada seorang suami yang menggunakan jasa GOSex kepergok istrinya, dia bisa beralasan kalau ia sedang numpang seorang perawat menuju rumah sakit, memeriksakan jantungnya yang mendadak sakit.

Begitupun dengan perempuan-perempuan yang ingin membuka lapak di GOSex, wajib menyertakan identitas mereka yang asli. Ini untuk menghindari penipuan dan pelacuran anak di bawah umur. Anggota GOSex juga wajib memperlihat surat pernyataan bebas dari penyakit kelamin yang diperbarui secara berkala. Khusus untuk keanggotaan GOSex yang membuka lapak (bukan user), berlakunya tidak seumur hidup karena harus diperbarui setiap tahun.

Khayalan berlari liar kemana-kemana. Dan baru berakhir ketika teh di cangkir tandas tanpa sisa. ()




Friday, 18 December 2015

PSK (Pahlawan Stabilitas Keamanan)

SAYA tiba-tiba saja tertarik memplesetkan akronim pekerja seks komersial (PSK) menjadiPahlawan Stabilitas Kekuasaan. Mengapa? Karena profesi yang sebenarnya “mulia” bak pahlawan ini, akhir-akhir ini memang layak diduga telah dimanfaatkan oleh elit kekuasaan untuk menstabilisasi kekuasaan mereka.

Saya menjadi ikut-ikutan sepakat dengan kesuudzonan umum yang berkembang di masyarakat, bahwa fenomena munculnya berita penangkapan sejumlah artis dan pengungkapan kasus-kasus perdagangan sahwat, seperti terungkapnya kasus prostitusi  online yang melibatkan para pesohor negeri ini sebagai upaya pengalihan isu dari perhatian rakyat terhadap kegaduhan politik di episentrum kekuasaan istana. Termasuk dari dagelan politik di Senayan, dan drama-drama sarkastik yang dimainkan keduanya, yang turut berimbas pada pilar kekuasaan lain seperti yudikatif, yang tentu saja menjadi santapan lezat media massa dan rakyat penyimaknya.

Pengalihan isu semacam ini memang bukan hal baru. Tidak terjadi di zaman rezim sekarang saja. Boleh dikata, rezim yang berkuasa sekarang hanyalah pengulang kisah sukses rezim sebelumnya. “Kegilaan” pers akan berita-berita heboh dan naluri mereka mengais info-info undercover dimanfaatkan dengan menciptakan isu-isu yang mampu meredam isu-isu liar tak terkendali diluar keinginan rezim untuk terus bergulir.

Mereka paham betul, untuk menjinakkan pencari berita, tidak mungkin dengan amplop yang hanya manjur untuk wartawan bodrex alias wartawan abal-abal yang biasanya bekerja pada media kecil yang menyandarkan kepulan asap dapur mereka dari “santunan” humas pemerintah. Bagi media besar, tentu perlu treatment lain. Menjinakkan dengan memberi mereka berita yang lebih heboh dan menarik.

Konon, rezim terdahulu selalu memainkan isu yang sedang tren saat itu, tentang teroris untuk menstabilitasi kekuasaan mereka yang goyang akibat krisis kepercayaan publik terhadap pemerintah dengan membuat berita-berita heboh seputar keberhasilan mereka mengungkap jaringan teroris yang selama ini mencekam warga dunia.

Keberhasilan tersebut memang sukses menutup “cacat” mereka akibat, misalnya kebijakan menaikkan subsidi BBM yang membuat panik masyarakat, penyelesaian kasus BLBI, Century, dan lainnya yang belum ada kejelasan.

Kegaduhan politik menjadi tidak lagi terlalu dirasakan lantaran tersamarkan oleh keterkejutan akan kabar tertangkapnya gembong teroris yang selama ini begitu dicari pada saat bersamaan. Perhatian publik yang awalnya terseret untuk mengamati kebijakan pemerintah yang berpotensi mengganggu stabilitasi kekuasaan, menjadi sedikit ternetralisasi.

Dan lagu lama pun rupanya ingin diputar ulang rezim sekarang, tentunya dengan sedikit gubahan. Munculnya berita heboh, yang tentu saja menarik perhatian publik seputar terungkapnya kasus prostisusi online para artis, dapat saja dihubung-hubungkan sebagai penyebab kemunculannya dengan isu panas yang berembus di lingkungan istana dan senayan. Ini sangat masuk akal, ketika pertengahan April 2015 muncul berita tentang rencana mahasiswa yang tengah mempersiapkan peringatan kejatuhan rezim Soeharto yang pernah berkuasa selama 32 tahun, yang berhasil disudahi kekuasaannya hanya dengan demo besar-besaran yang mengepung istana dan diikuti demo-demo serupa di seluruh tanah air pada tahun 1998 silam.

Rencana mahasiswa sudah mulai tampak dengan penggalangan demo kecil-kecilan yang mulai rutin dilakukan sejak April dengan rencana puncaknya pada bulan Mei, tepat saat dulu Soeharto “terusir” dari istananya. Akan ada rencana demo besar-besaran, dan kalau timing takdirnya pas, maka Jokowi pun akan dipaksa lengser saat itu juga. Akibat janji saat kampanye, kenyataannya masih jauh panggang dari api. Mereka berencana akan menggelar demo besar-besaran untuk menurunkan Jokowi-JK yang kekuasaannya belumlah sampai seumur jagung.

Berita seputar rencana tersebut sudah berhembus demikian kencang sejak April. Di hampir semua media massa, tidak terkecuali salah satu media yang selama ini dikenal habis-habisan membela Jokowi, turut pula memberitakannya. Walaupun dengan kadar yang dipastikan hanya untuk menetralisir berita media massa lainnya yang lebih garang.

Berita yang datang bergulung-gulung dan secara terus-menerus digulirkan itu, tentu saja membuat ciut nyali. Pemerintah mulai khawatir. Jangan-jangan benar, nasibnya sama dengan rezim yang pernah berkuasa selama puluhan tahun itu. Tumbang hanya dengan gerakan massa yang mengairbah mengepung ibukota.

Entahlah, apakah dugaan saya dan sebagian orang ini benar, ketika pemberitaan sudah sangat terkondisi menyoroti rencana penggulingan kekuasaan secara revolusi tersebut mendekati kenyataan, pemerintah dan alat kekuasaannya tiba-tiba saja berhasil membongkar kasus prostitusi online yang melibatkan puluhan pesohor ibukota. Berawal dengan tertangkapnya sang mucikari, RA dan keluarnya pengakuan dari mulutnya di depan penyidik seputar bisnis yang dilakoninya selama ini.

Tertangkapnya RA berawal dari tertangkapnya oknum artis yang telah diboking secara menyamar oleh petugas dengan tarif yang luar biasa mahal. Dari mulut sang mucikari inilah, muncul sederet nama artis terkenal yang disamarkan dengan singkatan-singkatan inisial yang biasanya dua huruf.

TB bertarif Rp 200 juta, JD bertarif Rp 150 juta, RF bertarif Rp 60 juta, CS bertarif Rp 60 juta, MT bertarif Rp 55 juta, KA bertarif Rp 55 juta, SB bertarif Rp 55 juta, CW bertarif Rp 50 juta, PUA bertarif Rp 45 juta, NM bertarif Rp 40 juta, CT bertarif Rp 40 juta, UJ bertarif Rp 35 juta, LM bertarif Rp 35 juta, DL bertarif Rp 30 juta, BS bertarif Rp 30 juta, AA bertarif Rp 25 juta, FNP bertarif Rp 20 juta, dan lain-lain. Begitu yang ada di kontak RA, sang mucikari. Bukan hanya media massa mainstream saja yang merilisnya. Hampir semua Sosmed menggunjingkan berita ini.

Dan sukses. Kemunculan berita ini menghapus sedikit demi sedikit perhatian publik pada “kegagalan” Jokowi mewujudkan program kerjanya saat kampanye dulu. Berita tentang demo besar yang sedang disiapkan mahasiswa yang sebelumnya yang bak tsunami mengalah ombak kecil di pinggir pantai, akhirnya hanya mampu mengaduk pasir-pasir pantai yang kecil-kecil.

Munculnya berita besar itu, sukses mengalihkan perhatian publik dari fokus mereka terhadap rencana mahasiswa dan rakyat yang akan mengulang sejarah tahun 1998 silam karena terbilas dengan berita yang lebih heboh dan mengusik naluri dasar manusia soal seks dan fantasi-fantasinya.

Bulan Mei berlalu dengan damai. Dan entah mengapa, ketika gonjang-ganjing politik kembali menerpa kalangan istana, yang diawali dengan terungkapnya rekaman percakapan Setya Novanto terkait Freeport yang dibawa Menteri ESDM Sudirman Said memanas dan mulai nyerempet ke istana dan Jokowi, prostitusi artis jilid II menguak. Polisi tiba-tiba saja berhasil menangkap dua artis yang sedang menjajakan tubuhnya di Surabaya. Deng.., perhatian publik kembali teralihkan. NR, artis yang selama ini memang selalu tercurigai bisa dibooking dan PR yang merupakan Miss Indonesia 2014 asal Kaltim, tertangkap saat menjual kemolekan tubuhnya kepada dua petugas yang menyamar.

Dari sekian kebetulan-kebetulan ini tidaklah salah jika rakyat termasuk saya, menduga kuat jika ini hanya untuk mengalihkan isu. Mereka berdua digunakan untuk menghindarkan istana sorotan rakyat yang sedang menunggu-nunggu kelanjutan kasus papa minta saham yang mulai mendekati sentral kekuasaan.

Rakyat mungkin tertarik dengan kegaduhan politik yang melibatkan aktor utama Ketua DPR-RI Setya Novanto yang dituduh mencatut nama presiden untuk mengolkan perpanjangan kontrak Freeport yang dilaporkan oleh Sudirman Said. Tapi masyarakat menjadi semakin tergugah ketertarikannya ketika rekaman percakapan tersebut juga keterlibatan orang dekat presiden, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Luhut Binsar Pandjaitan dan Wapres JK dalam kasus bagi-bagi saham ini. Anda tentu menyimak perkembang kasusnya, kan.

Bukan hanya kita yang rakyat, bahkan Presiden Jokowi yang biasanya  kalem dan tak pernah marah, terlihat begitu murka. Dan kemurkaan inilah yang kemudian selalu ditanyang-tayangkan ulang oleh salah satu media massa, yang saya yakin Anda semua tahu media yang saya maksud.

Rakyat yang bosan melihat sampai-sampai ada yang nyeletuk begini, kok baru marah sekarang. Kok mendadak, tumben presiden mendadak tegas dan berwibawa. Kemana kebiasaan dulu. Rakyat pun terdorong kecurigaannya kemana-kemana. Namun di tengah kondisi yang sangat tidak memungkinkan ini, meletup lagi berita heboh prostitusi artis. Dan kembali sukses, walaupun tidak sesukses sebelumnya. Karena meski sempat sedikit mampu mengalihkan perhatian publik, tapi badai papa minta saham tidak reda begitu saja. Hingga tulisan ini saya posting di wcpria.blogspot.com, berita yang mengangkat kasak-kusuk politik ini terus berlanjut dan entah sampai kapan. Tapi satu pelajaran penting yang bisa kita petik, PSK kini tidak lagi identik dengan Pekerja Seks Komersial, yang berkutat pada urusan kepuasaan arus bawah perut, tapi mencapai titik fungsi “kemuliaan” lainnya, untuk menjaga stabilitas keamanan nasional. Menjadi pahlawan stabilitas keamanan yang akronimnya ternyata juga dapat disebangunkan dengan pekerja seks komersial (PSK).

Duhai NM, PR, AA, dan bla…bla…bla…jangan berkecil hati apalagi malu. Kalian Pahlawan! Bukan saja untuk lelaki-lelaki hitung belang, tapi juga pahlawan untuk sebuah kekuasaan. Berbanggalah. ()


Friday, 11 December 2015

Gurihnya Black Campaign

ANDA boleh gusar jika ada yang menggosipkan Anda dengan hal-hal jelek. Atau ada yang tahu rahasia yang Anda telah disimpan rapat-rapat, kemudian dibongkar dan diumum-umumkan di sosial media.

Di musim Pemilu, apapun jenisnya, mulai Pemilu legislatif, presiden, sampai pemilu kepala daerah (Pilkada) Serentak yang baru saja berlangsung 9 Desember 2015 kemarin, istilah black campaign menjadi hal yang paling dihindari. Tapi tahukah Anda, black campaign tidak harus selalu berbuah kejelekan.

Bagi sebuah kelaziman, orang yang tertimpa black campaign logikanya pasti akan terpuruk. Nama baiknya akan hancur, reputasinya bakal jelek, lebih-lebih karir politik. Seorang tokoh yang sedang terserang black campaign, biasanya akan jatuh tersungkur. Tidak sedikit petahana yang ambruk dihantam badai ini. Dan kondisi seperti ini tentu amat digemari oleh para lawan politiknya. Bahkan tidak sedikit yang sengaja membangun strateginya dengan mengkondisikan demikian.

Demi kentut Dewi Fortuna yang berhembus kancang di Pilkada Serentak tahun ini. Mereka yang tertimpa black campaign justru mendapat suara terbanyak dan merajai perolehan suara Pilkada. Taruhlah, nasib yang dialami Pasangan Calon Nadmi-Jaya yang mencalonkan diri sebagai Calon Walikota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Sejak beberapa bulan sebelum pencobolosan, pasangan ini sudah diuji dengan namanya black campaign. Berangkat dari penggorengan ulang berita lama yang pernah diangkat banyak media soal kedekatan Darmawan Jaya dengan Lihan, terpidana kasus bisnis investasi yang ambruk di penghujung tahun 2009 silam dan meninggalkan banyak investor yang belum dikembalikan haknya.

Dimulai dengan diangkatnya berita lama itu dan disusul beredarnya foto-foto Jaya bersama Lihan di internet, yang di push dari website Banjarbaru Highlight. Hingga, jelang beberapa hari sebelum pencoblosan.

Upaya yang dilakukan makin gila dan massive. Yaitu dengan menyebarkan selebaran-selebaran yang mengangkat materi black campaign yang serupa dengan di internet, dengan mengekpose besar-besaran foto kebersamaan Jaya dan Lihan ke kampung-kampung. Tapi apakah Nadmi-Jaya tersungkur? Tidak. Malah perolehan suaranya di luar dugaan.

Black campaign justru menjadi semacam iklan gratisan yang menuai suara dukungan buat mereka berdua, karena sebagian besar warga bersimpati dengan nasib Jaya yang dianggap sedang teraniaya.

Jaya bukan satu-satu contoh "korban" black campaign yang malah menuai suara dukungan. Di Pilkada serentak lain kota, Pasha Ungu bersama pasangannya yang bertarung memperebutkan posisi calon wakil walikota Palu. Posisi Pasha persis seperti Jaya, sama-sama dibidik isu, dan sama-sama menjadi calon wakil walikota. Betapa gencarnya isu foto mesra dirinya dengan artis Angel Caramoy menghias layar kaca hampir seluruh stasiun televisi.

Sungguh dahsyatnya, sampai-sampai saya termasuk yang meyakini, black campaign seperti ini akan berdaya dobrak tinggi untuk menjatuhkan karir politik keduanya. Kalau tidak hancur lebur, ya setidaknya pada Pilkada kali ini dia kehilangan banyak suara. Tapi ternyata saya keliru. Pasha Ungu yang berpasangan dengan Hidayat ini justru memang mutlak dari lawan-lawan politiknya.

Fenomena ini tentu akan jadi kajian menarik untuk diteliti. Sangat boleh jadi, fakta ini nantinya bakal jadi bahan yang sangat layak untuk desertasi para kandidat doktor politik di tanah air. Walaupun, kecenderungan seperti ini di ranah yang berbeda, sudah  menjadi hal biasa.

Misalnya, kampanye larangan merokok dengan mencantumkan daftar penyakit mematikan di bungkus rokok yang tidak kunjung membuat penikmatnya menghentikan kebiasaan merokok. Bahkan terkini, "black campaign" anti rokok ini sampai mewajibkan produsen rokok menyantumkan foto-foto "menjijikan" para korban nikotin yang sampai berlubang tenggorokannya,  paru-paru menghitam yang hanya dibingkai tulang tengkorak dada penderitanya. Sampai foto seorang ayah merokok sambil menggendong bayi, yang harusnya perlu diperdebatkan lagi, apakah penyantuman foto bayi seperti itu diperbolehkan secara etika.

Lantas apakah perokok menjadi berkurang dengan kampanye dan penyebaran foto-foto mengertikan seperti itu? Anehnya justru tidak. Penikmat rokok, berdasarkan survei-survei justru meningkat tajam. Makin banyak perokok pemula di kalangan remaja dan anak-anak yang malah penasaran ingin mencoba.

Kampanye serupa, yang awalnya untuk mencegah masyarakat mendekati lokalisasi, dengan memasang pengumuman besar-besar di depan jalan masuknya: "Dilarang Melakukan Tindak Prostitusi di Kawasan Ini" justru membuat warga yang sebelumnya tidak tahu dan juga malu bertanya arah jalan masuk ke tempat "begituan", jadi tahu. Menjadi makin semaraklah lokalisasi dengan penikmat-penikmat baru.

Saya sampai kepikiran begini, ketika jagat infotainment dihebohkan dengan kasus prostitusi online yang melibatkan artis-artis ternama, harusnya para artis yang memang memiliki usaha sampingan melayani "kepuasaan" penggemar rahasia mereka, tidak mencak-mencak. Karena sesungguhnya ini iklan gratis yang menguntungkan. Karenanya tidak perlu memasang iklan mahal-mahal di koran kuning, atau iklan televisi di waktu-waktu primetime.

Ketika wartawan mengkonfirmasi, akui saja, kalau perlu sambil menyebutkan tarif yang lebih mahal dari tarif aslinya. Sehingga ketika ditelepon pejabat atau pengusaha yang mau ngajak ngamar, mereka tidak perlu berpanjang negosiasi harga. Cukup bilang: "Anda pernah nonton tv 'kan. Nah, tarif saya segitu, tidak kurang tidak lebih. Titik."

Tidak perlu malu. Toh, Ariel Peterpan yang kini jadi Ariel Noah tetap tidak kehilangan penggemar walau video "ah-uh"nya bersama Luna Maya dan Cut Tari mendunia. Malah, jangan-jangan sekarang, banyak wanita, terutama yang berduit, penasaran sambil mengkhayalkan rasanya bersama Ariel. Tinggal Anda, berani atau tidak berjudi dengan nama baik. Kalau berani, tak ada salahnya dicoba. Terutama bagi yang lima tahun mendatang mencoba peruntungan di dunia politik.

Anda tinggal menyebar-nyebarkan aib sendiri, dengan harapan rakyat bersimpati karena menganggap Anda telah di-blackcampaign-kan musuh politik dan harus dikasihani. Tapi, apakah Anda pasti akan seberuntung Jaya dan Pasha. Atau jangan-jangan Anda bunuh diri sekaligus menggali kuburan sendiri. ()

Thursday, 3 December 2015

Jepit Testis dan Bawang Putih di Anus

(Sakit Politik Politikus Sakit)

ADA satu trik yang terbukti masih saja ampuh untuk menangkal pemanggilan aparat penegak hukum. Bukan suap, bukan koneksi kedekatan dengan pejabat, bukan pula dengan cara melarikan diri yang akhirnya justru malah memasukkan kita ke dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) dan dianggap sebagai seorang Buronan polisi. Trik itu adalah pura-pura sakit.

Iya, pura-pura sakit dan berobat keluar negeri. Kalaupun tidak sempat atau tidak mampu keluar negeri, cukuplah di rumah sakit terdekat namun ngumpet di ruang yang tidak dapat diakses aparat. Lebih-lebih wartawan. Karena bahaya kalau tercium para pekerja pers ini. Kepura-puraan yang sudah dibungkus demikian rupa bisa saja dengan sangat mudah terbongkar ke muka publik.

Walaupun sebenarnya, rakyat sekarang tidaklah bodoh. Karena mendadak sakit ketika seseorang sedang berkasus, sangat mudah mengundang kecurigaan. Apalagi jika kemudian, aparatnya malah terkesan percaya begitu saja kalau yang bersangkutan sakit. Tanpa mau, misalnya menerjunkan dokter untuk mengecek kebenaran sakit si calon tersangka.

Namun kalau skenario sakit ini sukses dilakukan, semua bisa dikelabui dengan sangat mudah. Lebih-lebih publik. Sebab di zaman sekarang, bagi para politisi yang tersangkut kasus tertentu, nama baik tentulah yang paling dijaga. Suap, mungkin mudah saja dilakukan. Koneksi dengan pejabat dari aparat penegak hukum, pastilah. Karena sepanjang karir mereka di ranah politik, pertamanan dengan para pejabat itu sungguh sebuah hal biasa. Tapi apa kata publik, ketika sebuah kasus tiba-tiba saja meredup tanpa ada kelanjutannya. Pastilah banyak yang bertanya-tanya sambil menghubungkannya dengan suap dan koneksi yang bersangkutan dengan oknum aparat penyidik.

Akhirnya, aparat pun kini lebih berhati-hati. Harus bermain cantik. Tidak bisa lagi asal bantu begitu saja dengan teman politikus mereka yang tengah tersandung masalah. Bisa-bisa malah mereka yang ketiban pulung. Ikutan diselidiki karena diduga telah berkomplot. Walaupun mereka bisa saja melakukannya. Mereka cukup pura-pura tidak tahu kepura-puraan itu, dan dalam jumpa pers di depan wartawan mereka mengatakan, kalau si politikus saat ini memang sedang sakit. Sumpah!

Dimana rasa kemanusiaan kalian, masa kita memaksa orang sakit untuk diperiksa. Lagi pula, saat orang sakit, keterangan yang diberikannya pun dapat saja menjadi kurang akurat. Bahkan dalam sebuah persidangan di pengadilan pun, hakim selalu menanyakan kesehatan terdakwa sebelum meneruskan persidangan. Kalau sakit, dan benar-benar sakit, sidang dapat saja ditunda untuk dilanjutkan di lain waktu. Apatah lagi dengan tahapan yang baru masuk pemeriksaan saksi.

Yang repotnya itu, politikus yang selama ini tidak memiliki pertemanan atau koneksi yang dapat membantu mereka memainkan drama pura-pura sakit itu. Namun jangan putus asa dulu. Karena ada dua hal yang dapat Anda lakukan. Pertama, menghilang dulu keluar negeri. Baik untuk selamanya maupun sementara waktu sambil menunggu sampai aman dulu. Aman sampai publik lupa, atau aman sampai usaha bersih-bersih barang bukti rampung dilakukan. Dan kalau kondisinya memungkinkan, sang politikus bisa balik lagi dan menjelaskan ke publik atau pendukungnya, kalau selama menghilang dia sakit dan harus berobat keluar negeri. Singapura, misalnya.

Bagaimana kalau tidak mampu keluar negeri atau tidak keburu melakukannya. Tahu-tahu, aparat sudah berjaga di bandara atau di depan rumah. Kalau kondisinya sudah demikian, maka pakailah cara kedua. Anda harus benar-benar sakit. Bukan pura-pura sakit. Karena aparat tentu tidak bodoh. Mereka tentu akan mendatangkan dokter untuk memeriksa kesehatan Anda. Caranya? Pelajaran dari cerita berikut ini mungkin layak untuk dicoba.

Ceritanya begini. Suatu ketika, Ketua DPRD di Kabupaten B tersangkut kasus pemalsuan ijazah. Hampir semua media memberitakannya. Aparat penegak hukum pun tidak dapat lagi berdiam diri atau pura-pura tidak tahu ada kasus itu. Akhirnya, dilayangkanlah surat pemanggilan untuk pemeriksaan. Pemanggilan pertama dan kedua diabaikan. Giliran surat pemanggilan terakhir, aparat sudah menyiapkan penjemputan paksa. Di saat genting itulah, sang ketua curhat dengan salah seorang pejabat di kabupaten B. “Bagaimana ini kawan, besok pasti saya sudah ditangkap,” begitu kira-kira dialog yang terjadi diantara mereka.

Si pejabat kemudian menyarankan sesuatu yang sedikit tidak masuk akal. Ketua DPRD yang sedang terancam itu diminta untuk sakit malam itu juga. Selambat-lambatnya, harus benar-benar sakit di pagi hari saat rencana penjemputan dilakukan. Sang Ketua pun bingung. Dia tentu tidak mungkin menyogok Tuhan untuk memberikannya sakit sesuai pesanan. Kalau pun bisa dengan cara berdoa agar sakit itu segera datang, masa ada sih doa untuk mendatangkan sakit. Yang ada malah doa minta kesembuhan.

Jadi bagaimana. Si pejabat membocorkan triknya. Caranya hanya dengan menyumpal, maaf, lubang anus dengan satu siung bawang putih yang sudah dikupas kulit arinya dan mendudukinya semalam suntuk. Kalau “resep” itu tepat dilakukan, maka dinihari atau selambat-lambatnya pagi hari, ketua dewan akan mengalami demam tinggi.

Karena tidak ada cara lain dan sudah kepepet, saran itu dilakukan sang Ketua. Dan benar saja. Dia mulai demam menjelang subuh. Mungkin mengalami inpeksi. Demamnya kian meninggi saja ketika aparat datang menjemput bersama beberapa wartawan dan seorang dokter yang sengaja disiapkan untuk mengecek kesehatan target mereka yang sebelumnya diketahui dari ajudan yang bertugas di kantor DPRD, kalau bosnya sedang sakit.

Karena benar-benar sakit, akhirnya polisi urung memeriksa sang ketua. Malah mereka-lah yang justru mengantarkan ke rumah sakit dan langsung opname sekian lama di ruang VIP. Saat opname inilah, sang ketua berkesempatan beres-beres dengan mengutus kaki tangannya, membereskan semua urusan administrasi seputar ijazah diduga palsu yang digunakannya saat pencalonan waktu itu.

Soal trik pura-pura sakit ini juga sukses dilakukan seorang kawan yang pernah nyantri di salah satu Ponpes tradisional. Sistem pondok yang sangat ketat mengatur santrinya hanya bisa keluar dari lingkungan Ponpes sekali dalam seminggu, yaitu di hari Jumat. Itu pun digunakan untuk sholat Jumat di masjid terdekat. Sore harinya, atau Jumat sore para santri sudah harus berada di pondok untuk mengikuti sholat magrib berjemaah. Nah, suatu waktu teman saya ini ingin keluar malam minggu untuk nonton konser di kota. Kalau keluar di luar jadwal libur mereka harus izin ke Kyai. Dan biasanya sangat jarang diizinkan kalau alasannya itu bukan karena sakit, ada keluarga yang meninggal dunia, atau urusan penting dan masuk akal lainnya yang tidak bisa ditunda.

Pernah ada penghuni Ponpes yang berpura-pura sakit. Dengan muka yang meringis dan akting meyakinkan, dia minta izin pada Kyai untuk berobat, namun gagal. Sang Kyai ternyata tahu, kalau yang bersangkutan bohong, hanya dengan mendeteksinya melalui jabat tangan.

Kegagalan yang sama tentu saja dialami rombongan santri yang berniat nonton konser. Satu persatu santri yang mengaku sakit, ketahuan bohong setelah bersalaman dengan Kyai. Kecuali teman saya. Semua heran, mengapa dia bisa lolos. Padahal jelas-jelas dia segar bugar, sehat walafiat. Tidak mengalami sakit apapun saat bersalaman dengan Kyai. Rahasia itu, beberapa tahun kemudian (setelah lulus) diceritakannya pada saya.

Mau tahu rahasianya? Rahasianya adalah dengan cara membuat sakit benaran. Jadi begini, sebelum bertemu dan bersalaman dengan Sang Kyai, dia membuat sakit beneran dirinya dengan menjepitkan penjepit pakaian ke bagian, maaf, testis alias biji alat vitalnya sebelum bersalaman dengan Kyai. “Lie Detector” Sang Kyai ternyata mampu ditipunya dengan trik sakit tadi. Dia pun selamat keluar dari Ponpes dan menonton konser dan bersenang-senang di kota. Demikian. Ada yang mau nyoba?

***

Saat membuat tulisan ini, saya sambil nonton tv selain Metro TV yang sedang ramai mengulas berita Surya Paloh, Bos Metro TV yang tidak kunjung memenuhi pemanggilan KPK terkait kasus Bansos Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho. Ada yang bilang, dia sedang sakit dan berobat di luar negeri. Kalau bertemu beliau, bilang saja, trik jepit jemuran dan bawang putih boleh dicoba. Semoga beruntung, hehehe...()



Monday, 19 October 2015

Juara itu harusnya Cuma Satu, Tapi…


TADI malam turnamen sepakbola piala presiden 2015 resmi berakhir. Sebagai juaranya Persib Bandung. Disusul di tempat kedua, yang biasa disebut sebagai juara kedua Sriwijaya FC. Pada pertandingan sebelumnya, atau pertandingan sehari sebelumnya, memperebutkan posisi 3 dan 4, berhadapan Arema Cronous melawan Mitra Kukar, yang menjadi satu-satunya asal Kalimantan yang selamat hingga fase semifinal.

Pada malam itu, pertandingan dimenangkan Arema dengan skor cukup telak 2-0. Karenanya kesebelasan asal Kota Malang Jawa Timur itu berhak mendapatkan gelar juara tiga dan menerima pengalungan medali (mungkin) perunggu. Dan ternyata, Mitra Kukar juga dianugerahi pengalungan medali. Entah berbahan apa. Kali ini memang sedikit istimewa, juara empat, yang harusnya tidak masuk hitungan juara itu, juga mendapatkan pengalungan medali. Ya, mungkin ini untuk melipur rasa kekecewaan saja. Juara empat masih dapat penghargaan dari panitia.

Tapi apa benar klub yang berada di posisi keempat saja yang harus diselamatkan dari rasa kecewa. Bagaimana dengan posisi kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya. Bahkan jauh sebelum turnamen piala presiden di mulai, mungkin juga ada digelar babak-babak kualifikasi, sehingga klub yang ikut turnamen, yang disebut-sebut sebagai kebangkitan persepakbolaan Indonesia yang saat ini masih dibayangi sanksi dari FIFA itu, juga bukan klub sembarangan. Mereka yang tidak lolos kualifikasi, juga harus tersingkir sebelum masuk ke pertandingan sebenarnya dalam turnamen. Mirip-mirip piala dunia-lah, yang pertandingan kualifikasinya pun sudah dibuat heboh begitu rupa.

Bagi klub yang tersingkir jauh sebelum turnamen dimulai, pastilah juga menyimpan kekecewaan. Sudah melakukan berbagai persiapan, eh baru bertanding sudah ketemu lawan berat dan langsung keok. Bagaimana tidak merasa kecewa. Seperti halnya nasib yang dialami Martapura FC yang harus berada di grup “neraka” bersama Persib Bandung dan Persebaya yang di tengah kompetisi mengubah namanya menjadi Bonex FC. Kekecewaan ini tentu harus juga dipikirkan oleh panitia. Kalau juara empat, yang sebenarnya juga tidak bisa disebut juara ini diberikan medali yang juga entah terbuat dari bahan apa untuk menyebutnya selain medali emas, perak, perunggu. Maka mereka yang terhempas di awal-awal kompetisi juga diberikan “kasih sayang” serupa biar adil.

Menurut sejarahnya, medali ini dimaksudkan untuk mewakili nilai-nilai Olympisme: Persahabatan, kehormatan, dan keunggulan dalam menghormati lawan. Bagi para pemenang, medali adalah simbol abadi kerja keras, latihan, ketahanan, sportivitas, dan kemuliaan tertinggi bagi dirinya sendiri dan bagi negaranya. Dan herannya, para pemenang Olimpiade Yunani kuno ternyata juga tidak mendapat medali sama sekali. Kecuali sebuah karangan bunga zaitun diletakkan di atas kepala sang juara. Peringkat kedua dan ketiga tidak mendapatkan apa-apa.

Barulah pada tahun 1896, tahun pertama Olimpiade modern digelar, hanya juara pertama dan kedua yang diakui. Karena perak dianggap lebih berharga ketimbang emas pada waktu itu, pemenang pertama dianugerahi medali perak dan sebuah mahkota dari cabang bunga zaitun. Para atlet yang menduduki peringkat kedua mendapatkan medali perunggu dan mahkota laurel. Setiap atlet yang berpartisipasi dalam Olimpiade menerima medali kenang-kenangan.

Pemberian medali kepada tiga pemenang teratas pertama kali diperkenalkan pada tahun 1904. Pada tahun yang sama, medali perak untuk juara pertama digantikan dengan medali emas. Medali emas pertama terbuat dari emas murni dan diberikan sampai tahun 1912. Namun saat ini, medali “emas” sebenarnya terbuat dari sterling silver yang dilapisi dengan lapisan tipis emas murni.

Dan kalau boleh kasih saran, kenapa tidak semua peserta saja diberikan medali dan penghargaan, seperti yang pernah terjadi di tahun 1896. Agar siapapun yang ikut pertandingan bola tidak jera dan merasa kecewa. Mungkin kedengarannya agak aneh, semua peserta mendapat medali. Tapi tak usah heran, awalnya gelar juara-juara selain juara satu juga terkesan aneh, sebab, kalau menilik kata kamus, juara itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang keluar sebagai pemenang, juara satu, sang juara, peserta terbaik. Dan yang namanya terbaik itu, awalan ter- adalah untuk mengartikan sesuatu yang tanpa banding. Tak mungkin ada yang ter- untuk posisi kedua, tertiga, dan belakangan ada lagi yang terempat. Kalau mau, sekalian aja dibuatkan juara sampai 10, atau yang mendapatkan gelar tersepuluh.

Saya teringat dulu waktu bersekolah SD, demi memotivasi siswa untuk terus berprestasi di kelas, pihak sekolah kemudian membuat semacam kompetisi, mereka yang memiliki nilai terbaik, maka dia berhak mendapat gelar juara satu. Bagi yang memiliki nilai dibawahnya, menjadi juara dua, tiga dan seterusnya. Waktu itu sampai dibuatkan juara harapan satu dua, tiga, untuk mereka yang memperoleh prestasi di tingkat keempat, lima dan enam. Bedanya dengan juara satu dua dan tiga, mereka yang berada di posisi 4, 5, dan 6 ini hanya maju ke depan kelas dan tidak mendapatkan bingkisan berupa buku dan peralatan sekolah dari kepala sekolah seperti halnya juara satu, dua dan tiga.

Bagi yang juara satu, dua, dan tiga pun, dari segi jumlah hadiah juga dibedakan. Kalau juara satu mendapatkan paling banyak hadiah, buku sampai 12 lembar atau satu lusin, dengan tambahan pulpen, pensil dan penghapus, juara kedua bukunya tinggal setengahnya, hanya sekitar enam lembar, dengan pensil dan pulpen, sedangkan juara tiga, bukunya tinggal 4 lembar dengan alat tulis hanya pensil dan penghapus. Sementara, juara harapan satu, dua dan tiga, hanya dapat tepuk tangan dan salaman dengan kepala sekolah. Dengan tepuk tangan pun saya sebenarnya ragu memastikannya, apakah itu untuk mereka yang bertiga terakhir itu, atau jangan-jangan tetap untuk sang juara. Perhatian pun, saya kira, hanya tertuju untuk sang juara. Semua mata akan tertuju penuh ke arah sang juara, bahkan mungkin tidak untuk juara dua dan tiga, apalagi cuma harapan satu, dua, maupun tiga. Paling-paling orang tuanya yang masih menyisakan sedikit rasa bangga, bahwa anaknya nyaris saja mendapat bingkisan alat tulis.

Itu artinya, juara itu sebenarnya hanya satu orang, seseorang yang benar-benar keluar sebagai pemenang dalam berbagai kompetisi. Tengoklah lagi definisi dari juara, baik yang tertera dalam kamus bahasa Indonesia, maupun dalam terjemahan Wikipedia.

Dalam kamus bahasa Indonesia, juara diartikan sebagai orang (regu) yang mendapat kemenangan dalam pertandingan yang terakhir; 2 orang yang gagah berani; orang yang pandai bersilat; pendekar; jagoan; 3 pengatur dan pelerai dalam persabungan ayam; 4 pemimpin peralatan (pesta dan sebagainya); 5 ahli; terpandai dalam sesuatu (pelajaran dan sebagainya)

Sedangkan dari versi wikipedia, juara adalah seseorang maupun kelompok yang telah memenangkan turnamen, kompetisi, liga, Olimpiade, atau kontes dalam bidang tertentu (misal bidang seni, kesenian, olah raga, menyanyi, ataupun iptek dan sains, dan lain-lain). Seseorang atau tim dapat menjadi juara di tingkatan yang berbeda, dan gelar juara sendiri diberikan pada pemain terbaik.

Dari sini kan jelas, kalau sang juara itu adalah mereka yang menjadi pemenangnya, bukan juara-juara lainnya yang berada di bawahnya, satu-dua tingkat dan seterusnya. Kalaupun panitia menyiapkan medali lainnya, biasanya perak untuk juara dua, perunggu untuk ketiga, dan (mungkin) alumunium untuk juara empat dan seterusnya, semata-mata hanyalah untuk mengobati rasa kecewa saja. Harusnya jangan tanggung-tanggung, sekalian saja dipikirkan gelar-gelar lainnya untuk mereka yang kurang beruntung. Teladanilah kompetisi serupa seperti pemilihan putri Indonesia. Ada banyak gelar diberikan untuk mereka-mereka yang kalah cantik dengan sang putri terpilih. Ada yang menjadi puteri Indonesia Lingkungan, ada yang bergelar putri Indonesia Pariwisata, ada puteri dengan kostum terbaik, pinggul terseksi, galungan sanggul yang futuristik, dan lain-lain.

Juara keempat, kelima, dan keenam, kita semua sudah paham. Mereka otomatis digelari juara harapan 1, harapan 2, dan harapan 3. Bagaimana dengan juara ketujuh, delapan, dan sembilan? Cari saja istilah lain seperti halnya “harapan” tadi. Misalnya, impian. Jadi, mereka yang hanya berhasil mendapatkan posisi di urutan ketujuh, kedelapan, dan sembilan, berhak mendapat gelar juara impian 1, impian 2, dan impian tiga. Begitu seterusnya, sampai (kalau diperlukan) ada yang bergelar juara khayalan 1, khayalan 2, dan khayalan 3, hehehe…

Sehingga ketika pulang ke daerahnya masing-masing, dalam jumpa pers dihadapan wartawan disaksikan kepala daerah, mereka masih bisa berbangga. “Alhamdulillah, kami berhasil mendapat medali plastik dan memperoleh gelar juara impian satu". Atau begini: "Kami bersyukur, masih bisa mendapat gelar sebagai juara khayalan satu, dan berhak membawa pulang medali dari batu akik".

Wartawan pun jadi enak membuatkan narasi dan judul beritanya; "Warga Provinsi Anu Bawa Pulang Medali Plastik". Pada sub judul ditulis: " Juara Khayalan Satu Turnamen Anu". Sehingga dalam setiap kompetisi tidak seorang pun yang merasa kalah, kecewa karena tidak mendapat gelar juara. Uang yang diberikan saat mendaftar pun terasa tidak sia-sia, sebab toh oleh panitia juga akan dikembalikan dalam bentuk medali-medali itu dan hadiah berupa uang pembinaan tentunya. Walaupun jumlah dan besaran nilainya tidaklah sama dengan yang menjuarai satu dua dan tiga.

Dari segi keamanan juga sangat bermanfaat. Karena semua happy mendapat gelar juara, maka tidak ada sporter yang merasa kecewa, terus tawuran dan membuat kerusuhan di dalam stadion, atau menembak-nembakkan laser kearah mata penjaga gawang lawan, sebab toh, klub kesayangannya pasti juara, entah juara apa dan apa.

Lagi pula begini, tujuan dari setiap pertandingan itu kan, terutama olahraga, kadang juga tidak untuk memilih siapa yang terbaik, tapi nilai persahabatannya. Dan ini yang lebih penting ketimbang juara-juaraan, pertandingan untuk mempererat persahabatan, bukan untuk gengsi-gensian, apalagi untuk taruhan. Disadari ataupun tidak, semua itu bergeser dari tujuan awal digelarnya sebuah kompetisi.

Apalagi dalam kompetisi olahraga, olahraga sendiri kan untuk kebugaran tubuh. Bagi siapapun yang melakukannya, diharapkan akan mendapatkan tubuh yang bugar, sehat jasmani dan rohani. Kalau semua orang sudah mendapatkan kesehatan jasmani dan rohani dari Tuhan, apakah ada yang lebih besar nilainya dari kesehatan itu. Apa enaknya, apa hebatnya juara tapi tidak sehat. Juara tapi kaki atau tulang rusuk patah, otak gegar akibat tawuran di tengah lapangan, atau sampai kehilangan organ tubuh segala. Saya lebih memilih, mending lari-lari kecil untuk berolahraga dan mendapat kesehatan sebagai bentuk juara dari Tuhan, daripada gelar juara dari manusia namun mengecewakan orang lain. Begitu menurut saya. ()